Home » Berita dan Kegiatan » Riset Balitbang Labura dan Akademisi Hasilkan 12 Rekomendasi

Riset Balitbang Labura dan Akademisi Hasilkan 12 Rekomendasi

Hasil penelitian yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kab. Labura bekerjasama dengan akademisi dari Universitas Negeri Medan (Unimed) dan staf analis kebijakan Balitbang Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap dan tindakan berkarakter antara siswa di perkebunan dan pedesaan, dengan siswa yang ada di perkotaan dan pesisir Labura, yaitu Kecamatan Kualuh Leidong dan Kualuh Hilir.

Hasil penelitian tersebut disampaikan saat rapat akhir hasil penelitian pendidikan berkarakter berbasis budaya lokal, Selasa (31/10) di aula kantor Bupati Labura dengan pemateri Prof. Dr. Sri Minda Murni MS, guru besar Fakultas Bahasa dan Seni Unimed, Dr. Mutsyuhito Solin MPd Dosen Unimed, dan MS Panca Waluya dari Balitbang Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud.

“Sikap dan tindakan berkarakter siswa lebih rendah di pesisir dan perkotaan, dibanding siswa di perkebunan dan pedesaan. Maka direkomendasikan agar pemerintah tetap berupaya dan menjaga suasana kehidupan desa dan perkebunan agar tetap kondusif. Sedangkan pesisir dan perkotaan diperlukan upaya yang lebih serius untuk mencegah masuknya faktor negatif,” kata Prof. Sri Minda di hadapan undangan yang dibuka Wabup Labura Drs Dwi Prantara MM tersebut.

Dijelaskannya, penelitian pendidikan karakter yang telah selesai dilaksanakan menghasilkan 12 rekomendasi rumusan kebijakan untuk digunakan sebagai panduan di Labura, yakni karakter religius lebih dominan dimiliki oleh siswa di wilayah pedesaan dan perkebunan, disusul wilayah pesisir dan perkotaan sehingga direkomendasikan kepada kepala sekolah agar memperkuat pembelajaran agama terutama pd praktik melaksanakan ibadah.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pernyataan ‘orang beragama hidupnya akan lebih baik daripada yang tidak beragama’, hasilnya cukup mengejutkan yaitu sebesar 12% (perkotaan), 11% (desa dan perkebunan), dan 10% (pesisir) menjawab bahwa pernyataan tersebut salah. Hal ini menunjukan terpisahnya ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian direkomendasikan agar sekolah melatih guru agama dan menata kurikulum agama untuk memperluas wawasan tentang agama dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Labura, Ismael Hasibuan MPd, didampingi Kepala Bidang terkait sosial budaya, Layla Tanjung SE mengatakan, selain tersebut di atas, 11 rekomendasi rumusan kebijakan untuk digunakan sebagai panduan lainnya yaitu (1) karakter religius lebih dominan dimiliki oleh siswa di wilayah pedesaan dan perkebunan, disusul wilayah pesisir dan perkotaan sehingga direkomendasikan kepada kepala sekolah agar memperkuat pembelajaran agama terutama pada praktik melaksanakan ibadah, (2) dari hasil penelitian ditengarai bahwa pelaksanaan ibadah merupakan hasil pendidikan agam, di antara tiga wilayah, wilayah kota paling kecil yang tidak menjalankan ibadah, (3) pemikiran anak-anak mengenai pelaksanaan atau menjalankan ibadah banyak diinternalisasi dari orang dewasa. Oleh karena itu direkomendasikan agar orang dewasa di Labura dapat menjadi teladan dengan mempraktikkan pelaksanaan ibadah secara tertib dan teratur, (4) ditemukan bahwa ada sebesar 20% siswa wilayah perkotaan yang tidak setuju dengan agama temannya ya berbeda, di wilayah pesisir sebesar 21%, sedangkan wilayah desa dan perkebunan relatif rendah sebesar 15%. Direkomendasikan agar topik pembelajaran mengenai toleransi dan kerukunan ditingkatkan, (5) direkomendasikan agar kegiatan-kegiatan keagamaan diperkuat dan dijadikan program unggulan dalam mata pelajaran agama, (6) direkomendasikan agar qasidah Burdah dan senandung dijadikan sebagai icon budaya untuk menanamkan nilai karakter anak, (7) terdapat budaya lokal yang dapat memupuk kebersamaan anak seperti engrang, congklak, bakiak, gala panjang, patok lele, dan lain-lain. Direkomendasikan agar bentuk-bentuk permaianan ini dilestarikan dengangn menggalakannya pada even-even kenegaraan dan keagamaan, (8) dalam penelitian ditemukan bahwa guru-guru di sekolah penelitian di Labura telah menanamkan pendidikan karakter dengan memberi contoh selau bersikap jujur, mendengarkan keluhan anak, memberi nasehat saat apel pagi, saling menghargai, ada himbauan rutin utk mengembalikan barang yang ditemukan, berdoa sebelum dan sesudah belajar. Direkomendasikan agar penanaman nilai-nilai karakter tersebut disistematisasi sedemikian rupa untuk menjadi sebuah konsep khas dan disosialisasikan kepada semua guru di lintas wilayah untuk dilakukan dalam pembelajaran di sekolah, (9) ditemukan bahwa karakter toleransi sudah berlangsung baik di sekolah. Direkomendasikan agar karakter toleransi dikembangkan dan dimodifikasi sehingga menjadi model karakter toleransi yang akan disosialisasikan kepada semua guru untuk diterapkan di sekolah, (10) penelitan menunjukkan bahwa karakter kedisiplinan, kerja keras, tanggungjawab sudah dijalankan. Berdasarkan hasil penelitian direkomendasikan agar karakter tersebut dikembangkan hingga menjadi model pendidikan karakter yang dapat diadopsi oleh seluruh sekolah lintas wilayah, (11) hasil penelitian menunjukan bahwa karakter kebangsaan, cinta tanah air, dan demokratis sudah dijalankan di sekolah.Direkomendasikan agar kegiatan dimaksud dikembangkan dan disempurnakan serta disesuaikan dengan masa kini sehingga lebih aktual dalam menanamkan karakter kebangsaan, cinta tanah air dan demokratis terutama di wilayah perkotaan.

Keterangan gambar :

Wakil Bupati Labura dan Kepala Balitbang Labura sebelum peneliti akademisi mempresentasikan makalah dan hasil riset