Kamis , 20 Juni 2019

Harkitnas Ke-111, Wabub : Kita Bisa Seperti Mahapatih Gajah Mada

Siapa yang tidak mengenal Imperium besar nusantara Majapahit, yang merupakan salah satu kerjaan terbesar yang pernah berdiri di nusantara selain kerajaan Sriwijaya. Majapahit merupakan kerjaan yang didirikan oleh Raden Wijaya dan mengalami masa kejayaannya saat dipegang oleh Raja Hayam Wuruk dan memiliki Mahapatih Gajah Mada. Mahapatih Gajah Mada merupakan pencetus disatukannya nusantara, jasa-jasa Patih Gajah Mada dapat kita rasakan hingga saat ini, yaitu bersatunya negara NKRI.

Wakil Bupati Labuhanbatu Utara Drs. H. Dwi Prantara MM kisahkan sosok pahlawan Mahapatih Gajah Mada dalam sambutan Menteri Komunikasi Dan Informatika RI saat pimpin upacara pada peringatan kebangkitan Nasional ke – 111 tahun yang dilaksanakan di Lapangan Polri Bhayangkara Aek Kanopan, Senin (20/05/2019).

Dalam naskah Sumpah Palapa yang ditemukan pada Kitab Pararaton tertulis: SiraGajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamunhuwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samanaisun amukti palapa”.

Memang ada banyak versi tafsiran atas teks tersebut, terutama tentang apa yang dimaksud dengan “amukti palapa”. Namun meski sampai saat ini masih belum diperolehpengetahuan yang pasti, umumnya para ahli sepakat bahwa amukti palapa berarti sesuatu yang berkaitan dengan laku prihatin sang Mahapatih Gajah Mada. Artinya, ia takakan menghentikan mati raga atau puasanya sebelum mempersatukan Nusantara.

Masih dalam teks pidato yang dibacakan oleh Wabub, hal tersebut dikaitkan dengan puasa saat ini. Dalam mempersatukan Nusantara agar tidak menyulut permusuhan dan menebar kebencian, apalagi menebat kebohongan.

“Apalagi peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini juga dilangsungkan dalam suasana bulan Ramadan. Bagi umat muslim, bulan suci ini menuntun kita untuk mengejar pahala dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah SWT seperti permusuhan dan kebencian, apalagi penyebaran kebohongan dan fitnah.” ujar Dwi Prantara.

Dengan semua harapan tersebut, kiranya sangat relevan apabila peringatan Hari Kebangkitan Nasional, disematkan tema “Bangkit Untuk Bersatu“. Kita bangkit untuk kembali menjalin persatuan dan kesatuan dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia.

Hingga pada akhirnya, pada ujung bulan Ramadan nanti, kita bisa seperti Mahapatih Gadjah Mada, mengakhiri puasa dengan hati dan lingkungan yang bersih berkat hubungan yang kembali fitri dengan saudara-saudara di sekitar kita. ucapnya lebih lanjut.